Sabtu, 19 Januari 2013

Sumber Hukum Islam dan Kaidahnya



Sumber Hukum Islam yang disepakati (Al-Muttafaq)
1.       Al-Quran
Secara bahasa           : bacaan
Secara istilah              : Firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril dalam Bahasa Arab yang diriwayatkan secara berangsur-angsur
Dasar kehujjahan Al-Quran: (Qs. Az-Zukhruf: 43)
Pokok kandungan Al-Quran:
a.       Ketauhidan
b.      Ibadah dan akhlak
c.       Mengandung sumber hokum
d.      Janji kabar baik (bagi kebaikan) dan ancaman (bagi keburukan)
e.      Kisah umat terdahulu
Panduan penetapan hokum dalam Al-Quran:
a.       Tidak memberatkan
b.      Meminimalisir beban
c.       Berangsur-angsur
2.       Al-Hadist/As-Sunnah
Secara bahasa           : sesuatu yang baru, jalan, cara, lawan dari bid’ah
Secara istilah              : Sesuatu yang berasal dari Rasulullah SAW baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapannya.
Dasar kehujjahan Al-Hadist/As-Sunnah: (Qs. Al-Hasyr: 7)
Pembagian Hadist asalnya:
1.       H. Qouliyah                         : perkataan Rasul
2.       H. Fi’liyah                             : perbuatan Rasul
3.       H. Taqririyah       : ketetapan Rasul
4.       H. Hummiyah     : belum dilaksanakan Rasul karena wafat
Fungsi Al-Hadist/As-Sunnah sebagai dasar hokum:
a.       Pelengkap dan penjelas dari Al-Quran
b.      Menentukan hokum yang khusus jika tidak terdapat dalam Al-Quran
3.       Ijma
Secara bahasa           : menyepakati, memutuskan
Secara istilah              : Kesepakatan para mujtahid (yang berijtihad) setelah Rasul wafat terhadap suatu permasalahan pada zaman dulu.
Macam-macam dan kedudukan ijma:
1.       Shorih   : semua mujtahid sepakat secara perkataan maupun perbuatan
2.       Sukuti   : satu mujtahid berpendapat yang lain diam (berarti setuju)
Syarat mujtahid:
1.       Mengetahui nash Al-Quran dan Hadist
2.       Mengetahui masalah jiwa
3.       Menguasai bahasa Arab
4.       Mengetahui ilmu Ushul Fiqih
5.       Mengetahui nasikh-mansoukh
6.       Mempertimbangkan kemaslahatan berdasarkan pertimbangan akal sehat
Tingkatan mujtahid:
  1. Mujtahid mustaqil           : mutlak/merdeka
  2. Mujtahid muntasib         : bersandar pada mazhab lainnya
  3. Mujtahid fil mazhabih    : menggunakan metode-metode mazhab lain
  4. Mujtahid murajjih           : menguatkan salah satu mazhab
4.       Qiyas
Secara bahasa           : mengukur, membandingkan
Secara Istilah              : Menghubungkan suatu perkara yang tidak ada dalam nash (baik Al-Quran maupun Hadist) dengan perkara yang lainnya yang telah ada dalam nash karena ada kesamaan illat/sifat
Macam-macamnya:
1.       Aula       : terhadap yang lebih besar
2.       Musawi                : menyamakan/sama dengan yang lain
3.       Adni       : terhadap yang lebih rendah
Rukunnya:
a.       Ashlu     : perkara yang telah ada dalam nash
b.      Far’u      : perkara baru
c.       ‘Illat       : melihat sifat perkara
d.      Khukmi : perkara hokum

Sumber Hukum Islam yang masih diperdebatkan (Al-Mukhtalaf)
1.       Al-Istihsan
Secara bahasa           : Menganggap baik
Secara istilah              : Penguatan Qiyas Khofi (samar-samar) atas Qiyas Jaly (jelas) dan pengecualian hokum khusus atas hokum umum karena ada dalil yang menghendaki perpindahan itu
Contoh Qiyas Khofi-Qiyas Jaly:
a.       Qiyas Jaly             : Haid dan junub sama-sama keadaan tidak suci; tidak boleh baca Al-Quran
b.      Qiyas Khofi         : Jangka waktunya: Haid lama; junub sebentar
c.       Istihsan                : Membaca Al-Quran mendapat pahala
d.      Kesimpulan        : Wanita haid boleh membaca Al-Quran
 Contoh hokum umum-hukum khusus:
a.       Hukum umum   : Jual-beli barang harus ada/tampak langsung
b.      Pengecualian     : Jual-beli saham, pesan kue, beli secara on-line (tidak tampak langsung)
c.       Pertimbangan   : Maslahat/kemanfaatan
d.      Kesimpulan                        : Bolehnya jual-beli kontemporer
Kedudukannya:
-          Menolak                              : Jumhur Ulama (sebagian besar ulama) seperti Maliki dan Syafii
-          Membolehkan  : Hanafiyah
2.       Al-Istishkhab
Secara bahasa           : Pengakuan adanya kedekatan
Secara istilah              : Pengambilan hokum yang telah ada sebelumnya selama belum ada dalil yang mengubahnya
Contoh sederhana:
a.       Lupa sudah wudzu/batal wudzu, maka kembali wudzu (keadaan sebelumnya)
b.      Ragu jumlah rakaat shalat sudah pas atau kurang 1, maka tambah 1 lalu sujud syahwi
Kedudukan:
-          Menolak                              : Hanafiyah
-          Membolehkan  : Jumhur Ulama
3.       Mashohitul Mursalah
Secara bahasa           : Kemaslahatan yang terlepas/tertinggal
Secara istilah              : Penetapan hokum berdasarkan kemaslahatan/kemanfaatan
Syarat berpegang pada Mashohitul Mursalah:
a.       Jelas
b.      Bukan untuk kepentingan tertentu
c.       Tidak bertentangan dengan nas atau jiwa
d.      Mengandung kemanfaatan untuk menjaga agama, harta, jiwa, dan keturunan
Contoh:
-          Adanya mata uang sebagai alat tukar-menukar dan jual-beli
-          Penjara bagi tersangka
Kedudukan:
-          Menolak                              : Jumhur Ulama
-          Membolehkan  : Hanafiyah
4.       Al-‘Urfu
Secara bahasa           : Adat kebiasaan
Secara istilah              : Segala sesuatu yang sudah saling dikenal dan dijadikan adat istiadat dalam suatu masyarakat, baik perkataan maupun perbuatan
Macam-macam:
a.       Urfu Shahih        : tidak bertentangan dengan syariah Islam
Contoh:
1.       Mahar berupa emas, uang, peralatan
2.       Jajan di angkringan, membayar setelah makan selesai
3.       Belanja tanpa harus akad/ijab qabul
b.      Urfu Fasid           : bertentangan dengan syariah Islam
Contoh:
1.       Suap untuk mendapatkan sesuatu, missal pekerjaan dan jabatan
2.       Ziarah kubur yang dipercaya ada kekuatan gaib
3.       Ruwatan agar selamat
Kedudukan:
-          Membolehkan  : Imam Syafii dan Hanafi
-          Menolak                              : beberapa
5.       As-Syar’u man Qablana
Secara bahasa           : Hukum/syariat orang-orang sebelumnya
Secara istilah              : Syariat sebelum agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW
As-Syar’u man Qablana terbagi:
a.       Masih berlaku, contoh:
1.       Puasa            : masa Nabi Daud, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad
2.       Khitan           : masa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad
3.       Qurban         : masa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad
b.      Sudah tidak berlaku, contoh:
1.       Masa Nabi Musa      : Kain yang terkena najis, dipotong
Sekarang                     : Disucikan
2.       Masa Nabi Musa      : Orang dengan dosa besar pada bunuh diri
Sekarang                     : Taubat Nasuha
Kedudukannya menurut Imam Syafii, Hanafi, dan Maliki: merupakan syariat bagi kita selama diterangkan kembali dalam nash
6.       Saddudz-dzari’ah
Secara bahasa           : Menutup jalan
Secara istilah              : Melarang suatu perbuatan yang secara lahir (fisik) diperbolehkan namun dipertimbangkan menjadi pendorong untuk berbuat dosa maupun kemaksiatan
Contoh:
a.       Bermain kartu atau sms dengan reg-spasi yang mendorong/cenderung untuk judi
b.      Bermain di lokalisasi sarkem
Kedudukan:
-          Imam Malik                        : dapat dijadikan hujjah
-          Syafii dan Hanafi               : tidak dapat dijadikan hujjah
7.       Madzhab Shahaby
Secara bahasa           : Pendapat para sahabat
Secara istilah              : Fatwa-fatwa sahabat mengenai berbagai permasalahan yang dinyatakan setelah Rasul wafat
Contoh:
a.       Bagian nenek dalam warisan jika lebih dari satu adalah setengah dari harta peninggalan dibagi rata (oleh Abu Bakar)
b.      Mencuri dengan alasan kelaparan bagi orang yang sangat kekurangan dengan sangat terpaksa, maka tidak dihukum seperti potong tangan (oleh Umar bin Khattab, lihat kembali sejarah kepemimpinan beliau)
Kedudukannya:
-          Jika sesuai sunnah Rasul, harus ditaati
-          Jika disepekati seluruh sahabat, maka dapat dijadikan hujjah dan ditaati
-          Jika tidak disepekati seluruh sahabat, maka tidak dapat dijadikan hujjah
8.       Dalalatul Iqtiran
Secara bahasa           : Dalil yang disebutkan secara bersamaan
Secara istilah              :  Dalil-dalil yang menunjukkan kesamaan hokum terhadap sesuatu yang disebutkan bersamaan dengan yang lainnya
Contoh:
-          Hukum haji wajib, umrah juga wajib
-          Hukum shalat wajib, zakat juga wajib
(karena dua hal tersebut disebutkan secara bersamaan dalam Al-Quran, missal pada Qs. Al-Baqarah: 196)
Kedudukan:
-          Jumhur Ulama                   : tidak dapat dijadikan hujjah
-          Imam Hanafi dan Maliki : dapat dijadikan hujjah

Sumber Hukum Islam lainnya/tambahan
1.       Tarjih
Secara bahasa           : Penguatan
Secara istilah              : Menguatkan salah satu dalil dari dua dalil yang bertentangan tentang suatu permasalahan, sehingga diketahui dalil yang kuat untuk diamalkan dan dalil yang lemah ditinggalkan
Contoh:
-          Hadist Riwayat Aisyah R.A. tentang puasa sah walau junub
-          Hadist Riwayat Abu Hurairah tentang puasa tidak sah bila junub sampai pagi
-          Penguatan: Hadist pertama, karena periwayat istri Rasul (lebih dekat)
2.       Talfiq
Secara bahasa           : Penggabungan
Secara istilah              : Mengambil beberapa hokum sebagai dasar beramal dari berbagai mazhab/pendapat
Contoh: tentang batalnya shalat dengan wudzu sebagai syarat sah shalat
-          Imam Syafii                 : wudzu batal bila menyentuh bukan muhrimnya
-          Imam Hanafi              : wudzu batal bila tidak menggosok anggota badan
-          Kesimpulan                                : wudzu batal bila menyentuh bukan muhrimnya dan tidak menggosok anggota badan
3.       Ittiba (mengikuti suatu mazhab/pendapat dengan mengetahui dasar hukumnya) dan Taqlid (mengikuti suatu mazhab/pendapat namun tidak/belum mengetahui dasar hukumnya)
4.       Ijtihad
Secara bahasa           : Mengerjakan/berusaha/berupaya sesuatu dengan sungguh-sungguh
Secara istilah              : Pencurahan segala kemampuan untuk mendapatkan hokum syari melalui dalil syari
Macam-macam:
  1. Ijtihad Fardi        : dilakukan individu/sendiri
  2. Ijtihad Jama’I     : dilakukan bersama-sama, berkumpul, dan menyepakati
Objek ijtihad:
  1. Peristiwa yang ada nashnya yang bersifat prasangka
  2. Peristiwa baru yang belum ada nashnya/dalil
5.       Hukum Taklifi dan Wadhi
  1. Hukum Taklifi
Hukum syari yang berisi tuntutan, yang terbagi atas mengerjakan, meninggalkan, dan/atau melilih antara yang dianggap benar dan salah
Terbagi:
1.       Ijab/Wajib                                   : harus dilakukan
2.       Nadzb/Sunnah                          : lebih baik dilakukan
3.       Ibahah/Mubah                         : boleh/diperkenankan dan tidak dilarang
4.       Karohah/Makhruh                  : lebih baik tidak dilakukan
5.       Tahrimz/Haram                         : jangan dilakukan
  1. Hukum Wadhi
Ketentuan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, dan penghalang berlakunya hokum lainnya
Contoh:
-          Sebab           : masuknya waktu shalat
-          Syarat           : wudzu sebelum shalat
-          Penghalang                : orang kafir dalam warisan (kecuali hadiah dengan maksimal sepertiga)
6.       Makhfum fihi/bihi
Perbuatan mukallaf (orang yang dibebani hukum) yang berhubungan dengan hokum syar’a (perintah/larangan)
Syarat:
  1. Jelas dan pasti
  2. Berasal dari Firman Allah
  3. Memungkinkan untuk dilaksanakan
  4. Dapat dibedakan dengan yang lainnya

Kaidah-kaidah Ushul Fiqih
Amr (perintah)                                  >< Nahi (larangan)
Amm (umum)                                   >< Khos (khusus)
Muthlaq (terlepas)                          >< Muqoyyad (terlihat)
Murodif (bermakna tunggal)      >< Musytarok (bermakna ganda atau lebih)
Mantuq (tersirat)                             >< Mafhum (tersurat)
Mujmal (global)                                                >< Mubayyan (terperinci)
Dzohir (nyata)                                   >< Ta’wil (tafsir)
Nasikh (yang menghapus)           >< Mansikh (yang dihapus)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar